Selasa, 08 Maret 2011

0 Nikmatnya Keperawanan Guruku

Aku memang merasa sebagai orang yang beruntung dapat merasakan nikmatnya bercinta dengan guru wanita di sekolahku sendiri yang selain cantik dan sexy juga masih perawan. Dan itu kami lakukan atas dasar saling cinta dan menyukai satu sama lain. Kami sama-sama menikmati sa’at-sa’at terindah yang kami alami itu.
Aku yakin cerita sex ini bakalan bikin kamu merasa nikmat dan horny berat. Sensasinya terasa sangat luar biasa dimana kita dapat merasakan nikmatnya bercinta dengan orang yang sangat kita kagumi yaitu guru kita sendiri. Aku sendiri hampir tak percaya bahwa aku telah melakukan perbuatan mesum ini dengan guruku sendiri yang merupakan orang tercantik dan paling dikagumi di sekolahku.

Saat itu umurku masih menginjak 17-18 tahun. Sedang guru lukisku itu adalah guru wanita paling muda, baru 25 tahun. Semula aku memanggilnya Bu Guru, layaknya seorang murid kepada gurunya. Tapi semenjak kami akrab dan dia mengajariku making love, lama-lama aku memanggilnya dengan sebutan Mbak. Tepatnya, Mbak Yuni. Mau tahu ceritanya?? Awas jangan ngiler ya bacanya....
Sore itu ada seorang anak kecil datang mencari ke rumah. Aku diminta datang ke rumah Mbak Yuni, tetangga kampungku, untuk memperbaiki instalasi listrik di rumahnya yang rusak.

"Cepat ya, Mas. Sudah ditunggu Mbak Yuni," ujar anak SD yang merupakan tetangga Mbak Yuni itu. Dalam hati, aku sangat girang. Betapa tidak, guru seni lukis itu rupanya makin lengket denganku. Aku sendiri tak tahu, kenapa dia sering minta tolong untuk memperbaiki peralatan rumah tangganya.
Yang jelas, semenjak dia mengajakku melukis di lereng gunung dan making love di semak-semak hutan, Mbak Yuni makin sering mengajakku pergi menemaninya jalan-jalan ke mana saja. Dan sore ini dia memintaku datang ke rumahnya lagi. Tanpa banyak pikir aku langsung berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Maklum, rumahnya terbilang cukup jauh, sekitar 5 km dari rumahku.
Setibanya di rumah Mbak Yuni, suasana sepi. Keluarganya tampaknya sedang pergi. Betul, ketika aku mengetuk pintu, hanya Mbak Yuni yang tampak.
"Ayo, cepet masuk. Semua keluargaku sedang pergi menghadiri acara hajatan saudara di luar kota," sambut Mbak Yuni sambil menggandeng tangganku.

Darahku mendesir ketika membuntuti langkah Mbak Yuni. Betapa tidak, pakaian yang dikenakan luar biasa sexy, hanya sejenis daster pendek hingga tonjolan payudara dan pahanya terasa menggoda. Kulitnya yang halus dan putih nampak jelas di balik pakaian tipis yang ia kenakan itu.
"Anu, Bud… Listrik rumahku mati melulu. Mungkin ada ada kabel yang konslet. Tolong betulin, ya… Kamu tidak keberatan kan?" pinta Mbak Yuni kemudian. Tanpa banyak basa-basi Mbak Yuni menggandengku masuk ke ruang tengah, kemudian masuk ke sebuah kamar.
"Nah saya curiga jaringan di kamar ini yang rusak. Buruan kamu teliti ya. Nanti keburu mahrib".
Aku hanya menuruti segala permintaannya. Setelah merunut jaringan kabel, akhirnya aku memutuskan untuk memanjat atap kamar melalui ranjang. Tapi aku tidak tahu persis, kamar itu tempat tidur siapa. Yang jelas, aku sangat yakin itu bukan kamarnya bapak-ibunya.

Celakanya, ketika aku menelusuri kabel-kabel, aku belum menemukan kabel yang lecet. Semuanya beres. Kemudian aku pindah ke kamar sebelah, aku juga tak bisa menemukan kabel yang lecet. Kemudian pindah ke kamar lain lagi, sampai akhirnya aku harus meneliti kamar tidur Mbak Yuni sendiri, sebuah kamar yang dipenuhi dengan aneka lukisan sensual dan erotis.
Celakanya lagi, ketika hari telah gelap, aku belum bisa menemukan kabel yang rusak. Akibatnya, rumah Mbak Yuni tetap gelap total. Dan aku hanya mengandalkan bantuan sebuah senter serta lilin kecil yang dinyalakan Mbak Yuni.
Lebih celaka lagi, tiba-tiba hujan deras datang mengguyur. Tidak-bisa tidak, aku harus berhenti. Maunya aku ingin melanjutkan pekerjaan itu besok pagi.
"Wah, maaf Mbak aku tak bisa menemukan kabel yang rusak. Ku pikir, kabel bagian puncak atap rumah yang kurang beres. Jadi besok aku harus bawa tangga khusus," jelasku sambil melangkah keluar kamar.
"Yah, tak apa-apa. Tapi sorry yah aku…. merepotkanmu," balas Mbak Yuni.
"Itu es tehnya diminum dulu".

Sementara menunggu hujan reda, kami berdua berakap-cakap berdua di ruang tengah. Cukup banyak cerita-cerita masalah pribadi yang kami obrolin, termasuk hubunganku dengan Mbak Yuni selama ini.
Mbak Yuni juga tidak ketinggalan menanyakan soal puisi indah tulisannya yang dia kirimkan padaku lewat kado ulang tahunku beberapa bulan lalu. Entah bagiamana awalnya, tahu-tahu nada percakapan kami berubah mesra dan menjurus ke arah yang menggairahkan jiwa. Bahkan, Mbak Yuni tak segan-segan membelai wajahku, mengelus telingaku dan sebagianya.
Tak sadar, tubuh kami berdua jadi berhimpitan hingga menimbulkan rangsangan yang luar biasa. Apalagi setelah dadaku menempel erat pada payudaranya yang berukuran tidak begitu besar namun bentuknya indah dan kencang. Dan tak ayal lagi, penisku pun mulai berdiri mengencang. Aku tak sadar sudah terangsang oleh guru sekolahku sendiri!

Namun hawa nafsu birahi yang mulai melandaku sepertinya mengalahkan akal sehatku. Mbak Yuni sendiri juga tampaknya memiliki pikiran yang sama. Ia tidak henti-hentinya mengulumi bibirku dengan nafsunya. Akhirnya, nafsuku sudah tak tertahankan lagi. Sementara bibirku dan Mbak Yuni masih tetap saling memagut, tanganku mulai menggerayangi tubuh seksi guru sekolahku itu.
Kujamah gundukan daging kembar yang menghiasi dengan indahnya dada Mbak Yuni yang masih berpakaian lengkap itu. Dengan segera kuremas-remas bagian tubuh yang sensitif tersebut.
"Aaah… Budi… aah…" Mbak Yuni mulai melenguh kenikmatan. Bibirnya masih tetap melahap bibirku. Mengetahui Mbak Yuni tidak menghalangiku, aku semakin berani.

Remasan-remasan tanganku pada payudaranya semakin menjadi-jadi. Sungguh suatu kenikmatan yang baru pertama kali kualami meremas-remas benda kembar indah nan kenyal milik guru sekolahku itu. Melalui kain blus yang dikenakan Mbak Yuni kuusap-usap ujung payudaranya yang begitu menggiurkan itu. Tubuh Mbak Yuni mulai bergerak menggelinjang keenakkan.
"Uuuuhhh… Mbak….." Aku mendesah saat merasakan ada jamahan yang mendarat di selangkanganku. Penisku pun bertambah menegang akibat sentuhan tangan Mbak Yuni, membuat bagian selangkangan celana panjangku tampak begitu menonjol.
Mbak Yuni juga merasakannya, dia semakin bernafsu meremas-remas penisku itu dari balik celana panjangku. Nafsu birahi yang menggelora nampaknya semakin menenggelamkan kami berdua, sehingga membuat kami melupakan hubungan kami sebagai guru-murid.
"Aaauuhh… Bud… uuuh….." Mbak Yuni mendesis-desis dengan desahannya karena remasan-remasan tanganku di payudaranya bukannya berhenti, malah semakin merajalela.
Matanya terpejam merasa kenikmatan yang begitu menghebat. Tanganku mulai membuka satu persatu kancing blus Mbak Yuni dari yang paling atas hingga kancing terakhir. Lalu Mbak Yuni sendiri yang menanggalkan blus yang dikenakannya itu.

Aku terpana sesaat melihat tubuh guru sekolahku itu yang seksi putih dan mulus dengan payudaranya yang membulat dan bertengger dengan begitu indahnya di dadanya yang masih tertutup beha katun berwarna krem kekuningan.
Tetapi aku segera tersadar, bahwa pemandangan amboi di hadapannya itu memang tersedia untukku, terlepas itu milik guru sekolahku sendiri. Tidak ingin membuang-buang waktu, bibirku berhenti menciumi bibir Mbak Yuni dan mulai bergerak ke bawah.
Kucium dan kujilati leher jenjang Mbak Yuni, membuatnya menggelinjang sambil merintih kecil. Sementara itu,tanganku kuselipkan ke balik beha Mbak Yuni sehingga menangkupi seluruh permukaan payudara sebelah kanannya. Puting susunya yang tinggi dan mulai mengeras begitu menggelitik telapak tanganku.
Segera kuelus-elus puting susu yang indah itu dengan telapak tanganku. Kepala Mbak Yuni tersentak menghadap ke atas sambil memejamkan matanya. Tidak puas dengan itu, ibu jari dan telunjukku memilin-milin puting susu Mbak Yuni yang langsung saja menjadi sangat keras. Meskipun baru kali ini aku menggeluti tubuh indah seorang wanita namun insting laki-lakiku membuatku seakan-akan sudah mahir melakukannya.
"Iiiihh….. auuuhhh….. aaahhh….." Mbak Yuni tak dapat lagi menahan desahan-desahan nafsunya. Segala gelitikan jari-jemariku yang dirasakan oleh payudara dan puting susunya dengan bertubi-tubi, membuat nafsu birahinya semakin membara.

Kupegang tali pengikat beha Mbak Yuni lalu kuturunkan ke bawah. Kemudian beha ¬itu kupelorotkan ke bawah sampai ke perut Mbak Yuni. Puting susu Mbak Yuni yang sudah begitu mengeras itu langsung mencuat dengan indahnya di depanku. Aku langsung saja melahap puting susu yang sangat indah itu.
Kusedot-sedot puting susu Mbak Yuni. Kuingat masa kecilku dulu saat masih menyusu pada payudara ibuku. Bedanya, tentu saja payudara guru sekolahku ini belum dapat mengeluarkan air susu. Mbak Yuni menggeliat-geliat akibat rasa nikmat yang begitu melanda kalbunya. Lidahku dengan mahirnya menggelitikin puting susunya hingga pentil tetek yang sensitif itu melenting ke kiri dan ke kanan terkena hajaran lidahku.
"Oooh…. Buuuuuuuud" desahan Mbak Yuni semakin lama bertambah keras.
Untung saja rumahnya sedang sepi dan letaknya memang agak berjauhan dari rumah yang paling dekat, sehingga tidak mungkin ada orang yang mendengarnya. Belum puas dengan payudara dan puting susu Mbak Yuni yang sebelah kiri, yang sudah basah berlumuran air liurku, mulutku kini pindah merambah bukit membusung sebelah kanan.

Apa yang kuperbuat pada belahan indah sebelah kiri tadi, kuperbuat pula pada yang sebelah kanan ini. Payudara sebelah kanan milik guru sekolahku yang membulat indah itu tak luput menerima jelajahan mulutku dengan lidahnya yang bergerak-gerak dengan mahirnya. Kukulum ujung payudara Mbak Yuni lalu kujilati dan kugelitiki puting susunya dengan rakusnya.
Puting susu itu juga sama melenting ke kiri dan ke kanan, seperti halnya puting susu payudaranya yang sebelah kiri tadi. Mbak Yuni pun semakin merintih-rintih karena merasakan geli dan nikmat yang menjadi-jadi berbaur menjadi satu. Seperti tengah minum soft drink dengan memakai sedotan plastik, kuseruput puting susu guru sekolahku itu.
"Buuuddd….. Aaaahhhhh….." Mbak Yuni menjerit panjang. Lidahku tetap tak henti-hentinya menjilati puting susu Mbak Yuni yang sudah demikian kerasnya. Sementara itu tanganku mulai bergerak ke arah bawah. Kubuka retsleting celana jeans yang dipakai Mbak Yuni. Kemudian dengan sedikit dibantunya sambil tetap merem-melek, kutanggalkan celana jeans itu ke bawah hingga ke mata kaki.

Tubuh bagian bawah Mbak Yuni sekarang hanya dilindungi oleh selembar celana dalam dengan bahan dan warna yang seragam dengan behanya. Meskipun begitu, tetap dapat kulihat warna kehitaman samar-samar di bagian selangkangannya. Rupanya vagina Mbak Yuni ditumbuhi jembut yang tidak pernah dia cukur. Ketika kucoba menciumnya ternyata baunya terasa harum dan nikmat sekali, mirip seperti bau daun pandan yang wangi.

Ditunjang oleh nafsu birahi yang semakin menjulang tinggi, tanpa berpikir panjang lagi, kulepas pula kain satu-satunya yang masih menutupi tubuh Mbak Yuni yang memang sintal itu. Dan akhirnya tubuh mulus guru sekolahku itu pun terhampar bugil di depanku, siap untuk kunikmati. Tak ayal, jari tengahku mulai menjamah bibir vagina Mbak Yuni di selangkangannya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu tipis kehitaman walaupun belum begitu banyak.

Kunikmati sesaat pemandangan indah vagina guruku yang berwarna pink kemerahan itu. Kusibak bibir vagina indah itu dengan jari tanganku. Uh, betapa indahnya alat kelamin perempuan ini pikirku dalam hati. Selanjutnya kutelusuri sekujur permukaan bibir vagina itu secara melingkar berulang-ulang dengan lembutnya.
Tubuh Mbak Yuni yang masih terduduk di sofa melengkung ke atas akibat rangsangan yang kulakukan di daerah vagina dia itu, sehingga payudaranya semakin membusung menjulang tinggi. Akupun menyambutnya dengan mengulum puting payudara yang sangat indah itu.
"Oooohhh….. Budddyyyy….. Iiiihhh….. Buuud…..!" Jari tengahku itu berhenti pada gundukan daging kecil berwarna kemerahan yang terletak di bibir vagina Mbak Yuni yang mulai dibasahi cairan-cairan bening. Benda kecil yang berwarna kemerahan itu seakan mengajakku untuk segera mencumbunya.
Mula-mula kuusap-usap daging kecil yang bernama klitoris ini dengan perlahan-lahan. Lama-kelamaan kunaikkan temponya, sehingga usapan-usapan tersebut sekarang sudah menjadi gelitikan, bahkan tak lama kemudian bertambah lagi intensitasnya menjadi sentilan. Klitoris Mbak Yuni yang bertambah merah akibat sentuhan jariku yang bagaikan sudah profesional, membuat tubuh pemiliknya itu semakin menggeliat-geliat tak tentu arah.

Melihat Mbak Yuni yang tampak semakin terangsang, aku menambah kecepatan gelitikanku pada klitorisnya. Dan akibatnya, klitoris Mbak Yuni mulai membengkak. Sementara vaginanya pun semakin dibanjiri oleh cairan-cairan kenikmatan yang terus mengalir dari dalam lubang kemaluan yang masih sempit itu.
Puas menjelajahi klitoris Mbak Yuni, jari tengahku mulai merangsek masuk perlahan-lahan ke dalam vagina guru sekolahku yang sexy itu. Setahap demi setahap kumasukkan jariku ke dalam vaginanya. Mula-mula sebatas ruas jari yang pertama. Dengan susah payah memang, sebab vagina Mbak Yuni memang masih teramat sempit. Kemudian perlahan-lahan jariku kutusukkan lebih dalam lagi.
Pada saat setengah jariku sudah amblas ke dalam vagina Mbak Yuni, terasa ada hambatan. Seperti adanya selaput yang cukup lentur.
"Aaahhh… Bud…" Mbak Yuni merintih kecil seraya meringis seperti menahan rasa sakit. Saat itu juga, aku langsung sadar bahwa yang menghambat penetrasi jari tengahku ke dalam vagina Mbak Yuni adalah selaput daranya yang masih utuh. Ternyata guru sekolahku satu-satunya itu masih perawan!
Baru aku tahu, ternyata sebandel-bandelnya Mbak Yuni, ternyata guru sekolahku itu masih sanggup memelihara kehormatannya. Aku salut padanya. Dan untuk menghargainya, aku memutuskan tidak akan melanjutkan perbuatanku itu.
"Bud….. Kok distop….." tanya Mbak Yuni dengan nafas terengah-engah.
"Mbak, Mbak kan masih perawan. Nanti kalo aku terusin kan Mbak bisa….."
Mbak Yuni malah menjulurkan tangannya menggapai selangkanganku. Begitu tangannya menyentuh ujung penisku yang masih ada di dalam celana pendek yang kupakai, penisku yang tadinya sudah mengecil, sontak langsung bergerak mengeras kembali.
Ternyata sentuhan lembut tangannya itu berhasil membuatku terangsang kembali, membuatku tidak dapat membantah apapun lagi, bahkan aku seperti melupakan apa-apa yang kukatakan barusan. Dengan secepat kilat, Mbak Yuni memegang kolor celana pendekku itu, lalu dengan sigap pula celanaku itu dilucutinya sebatas lutut. Yang tersisa hanya celana dalamku.
Mata MbakYuni tampak berbinar-binar menyaksikan onggokan yang cukup besar di selangkanganku. Diremas-remasnya penisku dengan tangannya, membuat penisku itu semakin bertambah keras dan bertambah panjang.
Kutaksir panjangnya sekarang sudah bertambah dua kali lipat semula. Bukan main! Semua ini akibat rangsangan yang kuterima dari guru sekolahku itu sedemikian hebatnya.
"Mbak….. aku buka dulu ya," tanyaku sambil menanggalkan celana dalamku.
Penisku yang sudah begitu tegangnya seperti meloncat keluar begitu penutupnya terlepas.
"Aw!" Mbak Yuni menjerit kaget melihat penisku yang begitu menjulang dan siap tempur. Namun kemudian ia meraih penisku itu dan perlahan-lahan ia menggosok-gosok batang ‘kontol’-ku itu, sehingga membuat otot-otot yang mengitarinya bertambah jelas kelihatan dan batang penisku itu pun menjadi laksana tonggak yang kokoh dan siap menghujam siapa saja yang menghalanginya.
Kemudian Mbak Yuni menarik penisku dan membimbingnya menuju selangkangannya sendiri. Diarahkannya penisku itu tepat ke arah lubang vaginanya. Sekilas, aku seperti sadar. Astaga! Mbak Yuni kan guru sekolahku sendiri! Apa jadinya nanti jika aku sampai menyetubuhinya? Apa kata orang-orang nanti mengetahui aku berhubungan seks dengan guru sekolahku sendiri?
Akhirnya aku memutuskan untuk tidak melakukan penetrasi lebih jauh ke dalam vagina Mbak Yuni. Kutempelkan saja ujung penisku ke bibir vagina Mbak Yuni, lalu kuputar-putar mengelilingi bibir gua tersebut. Mbak Yuni menggelinjang merasakan sensasi yang demikian hebatnya serta tidak ada duanya di dunia ini.
"Aaahhh….. uuuhhhh….." Mbak Yuni mendesah-desah sewaktu aku sengaja menyentuhkan penisku pada klitorisnya yang kemerahan dan kini kembali membengkak.
Sementara bibirku masih belum puas-puasnya berpetualang di payudara Mbak Yuni itu dengan puting susunya yang menggairahkan. Terlihat payudara guru sekolahku itu dan daerah sekitarnya basah kuyup terkena jilatan dan lumatanku yang begitu menggila, sehingga tampak mengkilap.
Aku perlahan-lahan mulai memasukkan batang penisku ke dalam lubang vagina Mbak Yuni. Sengaja aku tidak mau langsung menusukkannya. Sebab jika sampai kebablasan, bukan tidak mungkin dapat mengoyak selaput daranya. Aku tidak mau melakukan perbuatan itu, sebab bagaimanapun juga Mbak Yuni adalah guru sekolahku!

Mbak Yuni mengejan ketika kusodokkan penisku lebih dalam lagi ke dalam vaginanya. Sewaktu kira-kira penisku amblas hampir setengahnya, ujung "kontol"-ku itu ternyata telah tertahan oleh selaput dara Mbak Yuni, sehingga membuatku menghentikan hujaman penisku itu. Segera saja kutarik penisku perlahan-lahan dari Yuning surgawi milik guru sekolahku itu.
Gesekan-gesekan yang terjadi antara batang penisku dengan dinding lorong vagina Mbak Yuni membuatku meringis-ringis menahan rasa nikmat yang tak terhingga. Baru kali ini aku merasakan sensasi seperti ini. Lalu, kembali kutusukkan penisku ke dalam vagina Mbak Yuni sampai sebatas selaput daranya lagi dan kutarik lagi sampai hampir keluar seluruhnya. Begitu terus kulakukan berulang-ulang memasukkan dan mengeluarkan setengah batang penisku ke dalam vagina Mbak Yuni. Dan temponya pun semakin lama semakin kupercepat.
Gesekan-gesekan batang penisku dengan lubang vagina Mbak Yuni semakin menggila. Rasanya tidak ada lagi di dunia ini yang dapat menandingi kenikmatan yang sedang kurasakan dalam permainan cintaku dengan guru sekolahku sendiri ini. Kenikmatan yang pertama dengan kenikmatan berikutnya,disambung dengan kenikmatan selanjutnya lagi, saling susul-menyusul tanpa henti.
Tampaknya setan mulai merajalela di otakku seiring dengan intensitas gesekan-gesekan yang terjadi di dalam vagina Mbak Yuni yang semakin tinggi. Kenikmatan tiada taranya yang serasa tidak kesudahan, bahkan semakin menjadi-jadi membuat aku dan Mbak Yuni menjadi lupa segala-galanya. Aku pun melupakan semua komitmenku tadi.
Dalam suatu kali saat penisku tengah menyodok vagina Mbak Yuni, aku tidak menghentikan hujamanku itu sebatas selaput daranya seperti biasa, namun malah meneruskannya dengan cukup keras dan cepat, sehingga batang penisku amblas seluruhnya dalam vagina Mbak Yuni. Vaginanya yang amat sempit itu berdenyut-denyut menjepit batang penisku yang tenggelam sepenuhnya.
"Aaaauuuuwwww….." Mbak Yuni menjerit cukup keras kesakitan. Tetapi aku tidak menghiraukannya. Sebaliknya aku semakin bernafsu untuk memompa penisku itu semakin dalam dan semakin cepat lagi penetrasi di dalam vagina Mbak Yuni. Tampaknya rasa sakit yang dialami guru sekolahku itu tidak membuat aku mengurungkan perbuatan bejatku. Bahkan genjotan penisku ke dalam lubang vaginanya semakin menggila.
Kurasakan, semakin cepat aku memompa penisku, semakin hebat pula gesekan-gesekan yang terjadi antara batang penisku itu dengan dinding vagina Mbak Yuni, dan semakin tiada tandingannya kenikmatan yang kurasakan. Hujaman-hujaman penisku ke dalam vagina Mbak Yuni terus-menerus terjadi sambung-menyambung. Bahkan tambah lama bertambah tinggi temponya.
Mbak Yuni tidak sanggup berbuat apa-apa lagi kecuali hanya menjerit-jerit tidak karuan. Rupa-rupanya setan telah menguasai jiwa kami berdua, sehingga kami terhanyut dalam perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh dua guru dan murid.
"Aaaah….. Budi….. aaahhh….." Mbak Yuni menjerit panjang. Tampaknya ia sudah seakan-akan terbang melayang sampai langit ke tujuh. Matanya terpejam sementara tubuhnya bergetar dan menggelinjang keras. Peluh mulai membasahi tubuh kami berdua. Kutahu, guru sekolahku itu sudah hampir mencapai orgasme. Namun aku tidak mempedulikannya.
Aku sendiri belum merasakan apa-apa. Dan lenguhan serta jeritan Mbak Yuni semakin membuat tusukan-tusukan penisku ke dalam vaginanya bertambah menggila lagi. Mbak Yuni pun bertambah keras jeritan-jeritannya. Pokoknya suasana saat itu sudah gaduh sekali. Segala macam lenguhan, desahan, ditambah dengan jeritan berpadu menjadi satu.

Akhirnya kurasakan sesuatu hampir meluap keluar dari dalam penisku. Tetapi ini tidak membuatku menghentikan penetrasiku pada vagina Mbak Yuni. Tempo genjotan-genjotan penisku juga tidak kukurangi. Dan akhirnya setelah rasanya aku tidak sanggup menahan orgasmeku, kutarik penisku dari dalam vagina Mbak Yuni secepat kilat. Kemudian dengan tempo yang tinggi, kugosok-gosok batang penisku itu dengan tanganku.
Tak lama kemudian, cairan-cairan kental berwarna putih bagaikan layaknya senapan mesin bermuncratan dari ujung penisku. Sebagian mengenai muka Mbak Yuni. Ada pula yang mengenai payudara dan bagian tubuhnya yang lain. Bahkan celaka! Ada pula yang belepotan di jok sofa yang diduduki Mbak Yuni. Ditambah dengan darah yang mengalir dari dalam vaginanya, menandakan keperawanan guru sekolahku itu berhasil direnggut olehku, muridnya sendiri!

Dan akhirnya karena kehabisan tenaga, aku terhempas begitu saja ke atas sofa di samping Mbak Yuni. Tubuh kami berdua sudah bermandikan keringat dari ujung rambut ke ujung kaki. Aku hanya mengenakan kaus oblong saja, sedangkan Mbak Yuni telanjang bulat tanpa selembar benangpun yang menutupi tubuhnya. Entah berapa lama kami tertidur kecapekan dalam kondisi telanjang seperti itu.
Kami berpelukan dengan mesra dengan perasaan nikmat yang luar biasa seakan tak ingin berpisah lagi selamanya.... Tanpa sadar aku telah memperawani vagina guruku yang masih muda itu, tapi itu sungguh nikmat luar biasa rasanya.... Penasaran ya?? Hahahaha.... ajakin guru kamu buat ngentot, cari yang masih perawan yaaaa.... Percaya deh, kamu pasti akan ketagihan!

0 komentar:

Posting Komentar